Assalamualaikum warahmatullaah wabarakatuh.
Kitab-kitab hadits menduduki posisi penting dalam khazanah keilmuan Islam. Para ulama klasik telah mencurahkan upaya begitu besar untuk menelurkan karya penanya melalui beberapa tulisannya yang kini dapat dengan mudah kita nikmati. Dalam deretan nama-nama ulama tersebut pastinya kita akan menemukan sebuah nama yakni Syaikh Utsman al-Khaubawy yang dikenal sebagai pengarang kitab Durrotun Nashihin yang cukup populer di Indonesia.
Beliau telah ikut memperkaya literatur-literatur yang berisikan mutiara-mutiara nasehat seperti Nashoih al-‘Ibad, dan juga Tanbih al-Ghafilin. Kehadiran kitab yang juga merupakan kitab yang dijadikan rujukan oleh banyak para dai ini ternyata juga banyak menuai kritikan dari tidak sedikit orang yang juga menjadi pembaca dari kitab ini. Nah, hal apa sajakah yang menjadikan kitab ini banyak dijadikan rujukan oleh para dai dan juga penyebab apakah yang menyebabkan sebagin orang enggan untuk merujuk ke buku ini? dalam makalah berikut maka akan dipaparkan mengenai sedikit info mengenai bagaimana kitab ini kemudian ikut pula dipaparkan tentang kajian dan respon dari masyarakat Indonesia Indonesia.
Pembahasan
1. Mengenal Kitab Durratun Nasihin
Kita Durrotun Nasihin yang memiliki arti yaitu mutiara para penasehat merupakan suatu kitab yang menghimpun mutiara nasehat, peringatan-peringatan, dan juga kisah-kisah menarik yang meliputi ranah duniawi dan ukhrawi. Kitab ini sudah lama menjadi kitab yang dikaji di Indonesia. Dikaji, dan juga dipelajari oleh santri-santri pondok pesantren dan juga masyarakat Indonesia sendiri. kitab ini adalah sebuah karya pena dari Syekh Utsman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syakir al-Khaubawiyyi (ada yang menyebut al-Khubawi atau al-Khubuwi, wafat pada 1824 M). [1] Dalam muqaddimah kitabnya disebutkan bahwa beliau menetap di Konstantinopel. Tidak banyak biografi yang didapatkan, karena pada kitabnya sendiripun biografi pengarang kitab tidak dicantumkan.[2] Oleh karena itu, data tentang kapan tepatnya kitab ini masuk dalam Indonesia juga sulit ditemukan.
Untuk sebuah latar belakang penulisan kitab ini disebutkan dalam kitabnya bahwa pada mulanya al-Khaubawy sendiri menyadari bahwa di daerah beliau terdapat beberapa kalangan masyarakat yang benar-benar menggemari untaian kata berupa nasehat-nasehat. Hal inilah yang mengguagah hatinya untuk membuat kitab yang berisi tentang untaian kata-kata nasehat . faktor laian yang mendukung asal mula penulisan kitab ini diungkapkan oleh pengarangnya sendiri yaitu, pada saat itu, al-Khaubawy merasa adanya penyimpangan pada penyampaian nasehat-nasehat yang pada saat itu dibawakan oleh teman-temannya.
Dikatakan menyimpang, menurut al-Khaubawy sendiri, kadang kala dalam penyampaian-penyampaian tersebut jauh dari nilai yang dibawakan oleh al-Qur’an. Sayangnya, al-Khaubawy sendiri tidak menjelaskan lebih lanjut bagaimana bentuk dari sebuah penyimpangan tersebut. Belum lagi niat yang tulus ini terlaksana, al-Kahaubawy terserang penyakit sakit keras. Diceritakan dalam muqaddimahnya, bahwa saat itu beliau sampai merasa susah untuk berbicara. Dan pada saat itulah beliau bernazar apabila Allah telah menyembuhkannya dari cobaan penyakit tersebut, maka beliau akan menyusun suatu kitab nasehat yang mengasyikkan bagi pecinta pendengar nasehat khususnya, dan bagi masyarakat luas pada umumnya.[3]
Dan setelah kesembuhan itu diperoleh, maka mulailah al-Khaubawy menulis kitab yang pada saat ini sudah ada di tangan kita, yakni Durratun Nasihin yang berarti mutiara para penasehat. Penulisan kitab ini terjadi pada abad ke-13 Hijriah.
2. Sistematika Kitab Durrotun Nasihin
Secara umum, Kitab Durratun Nashihin yang mempunyai tebal sekitar 288 halaman ini, memuat berbagai kisah (hikayat) maupun keutamaan-keutamaan dari setiap ibadah. Misalnya keutamaan puasa, keutamaan bulan Rajab, Sya'ban, Ramadhan, serta shalat sunat (tarawih, witir, dluha, tasbih, dan tahajud). Kemudian, di dalamnya tertulis keutamaan atau fadilah shalat berjamaah, menghormati orang tua, dan berzikir, yang didukung dengan ayat-ayat Alquran. Totalnya memuat sekitar 75 pasal (penjelasan) keutamaan yang berkaitan dengan setiap topik yang dibahas.
Dan, setiap keutamaan-keutamaan dari setiap ibadah itu disertai dengan berbagai kisah dan hikayat yang diambil dari beberapa kitab lainnya. Di antaranya Zubdat al-Wa'izhin, Tuhfah al-Muluk, Kanz al-Akhbar, Durrah al-Wa'izhin, Syifa' al-Syarif, Daqaiq al-Akhbar, Firdaus Akbar, dan juga Bahjat al-Anwar. Penambahan kisah, cerita, atau hikayat yang dicantumkan pengarang Durratun Nashihin ini, tampaknya dimaksudkan agar keutamaan yang diterangkan atau pembahasan itu semakin menambahkan semangat bagi pembacanya untuk segera mengamalkannya.
Secara keseluruhan, Kitab Durratun Nashihin ini menghimpun sejumlah mutiara nasihat, peringatan, hikayat atau cerita menarik dan penjelasan hukum, serta permasalahan yang meliputi urusan dunia dan akhirat. Oleh karena itu, pantassaja kitab ini banyak dipakai oleh para muballighah, karena di dalamnya sendiri sudah tersusun materi-materi yang layaknya seperti uraian pidato ataupun ceramah. Hal ini dirasa wajar jika kita mengingat kembali bahwa nama kitab ini yaitu mutiara para penasehat. Yang juga pada awalnya kitab ini dibuat untuk para pecinta nasehat.
c. Hadits-Hadits dalam Durrotun Nashihin
Suatu karya yang lahir dalam hasil karya manusia, dalam bidang apapun itu pastinya tidak akan pernah terlepas dari respon orang lain sebagai pembaca dari hasil karya tersebut. Tak terlepas pula al-Khaubawy beserta karyanya yakni Kitab Durrotun Nashihin. Kitab ini disinyalir oleh banyak orang bahwa di dalamnya terdapat banyak hadits-hadits yang dlaif dan juga hikayat-hikayat yang tak mempunyai keterangan yang jelas.[4] Sebenarnya, dalam pengambilan sumber, al-Khaubawy sendiri selalu menyertakan sumber di mana beliau mengambil data-data yang dikutipnya. Tapi memang, kitab-kitab yang dijadikan sebagai sumber ini tidak begitu populer dikaji oleh masyarakat banyak, bahkan bisa dikatakan asing didengar.
Untuk itu, pada makalah kali ini, setidaknya akan dipaparkan beberapa hadits yang sengaja diambil secara acak dari kitab tersebut, untuk kemudian diteliti mengenai kualitas sanadnya.[5]
1. HR. Turmudzi no. 2850 (bab fadilah membaca al-Qur’an)
2. HR. Bukhari no. 2958 (bab fadilah bulan Rajab)
3. HR. Muslim no. 4867 (bab fadilah membaca kitab al-Qur’an)
4. HR. Bukhari no. 5991 (bab membahas perihal menangis)
5. HR. Ahmad no. 21169 (bab fadilah membaca al-Qur’an)
6. HR. Muslim (bab fadilah bulan Rajab)
Dari keenam hadits yang diuraikan barusan, memang terlihat hanya satu hadits yang bermasalah yaitu HR. Tirmidzi no.2850. Sedangkan hadits yang lainnya dinilai shahih. Tetapi hal ini tidak serta merta manjadi kesimpulan untuk menolak pendapat yang mengatakan bahwa kitab ini memiliki banyak hadits dlaif.
d. Kisah-kisah dalam Durratun Nashihin
Seperti yang telah disinggung pada awal makalah, bahwa kitab ini juga terkenal memiliki banyak cerita-cerita yang juga ikut dicantumkan oleh sang pengarang yaitu al-Khaubawy. Berikut ini akan dipaparkan cerita yang banyak dikritik oleh beberapa pembaca dari kitab ini. Pertama, pada halaman ke-8 diceritakan bahwa ada seseorang yang bernama Muhammad yang tidak pernah shalat sama sekali. Lalu pada bulan Ramadlan ia mengagungkan bulan itu dan mengqadla’ seluruh shalat yang telah ia tinggalkan. Dan inti dari kisah ini mengesankan, seakan-akan semua orang tak mengapa tidak menunaikan shalat, asal diqadla’ pada bulan Ramadlan. Dan pastinya meninggalkan jejak kesan bahwa kewajiban shalat seakan tidak berharga. Kemudian, nama Muhammad yang tercantum di sanapun tak jelas adanya.
Kedua, dalam halaman ke-21 pada bab menciptakan ketentraman jiwa dengan cara musyahadah qudratillah terdapat satu cerita mengenai hikayat hidup seoarang pemuda yang tidak diketahui namanya yang memancing ikan. Kemudian hasil tangkapannya dirampas oleh orang lain dan ia berdoa kepada Allah agar Allah mengirimkan makhlukNya yang lain untuk embalas perbuatan si pencuri tersebut. Ketiga, masih pada bab yang sama diceritakan bahwa ada seorang wanita yang baik hati untuk berbagi makanannya kepada seorang pengemis ketika mengalami musim paceklik di daerahnya. Dan ketika anaknya di hutan dibawa oleh serigala, maka Allah mengutus malaikat untuk memerintahkan pada serigala untuk memuntahkan kembali anak tersebut.
Ketiga cerita ini adalah salah satu contoh hikayat yang terkandung dalam kitab ini. Walau pada kenyataannya al-Khaubawy seringkali tidak menjelaskan siapa pelaku dalam cerita yang ia tampilkan pada kitabnya, namun pada beberapa cerita terdapat beberapa pengecualian.
Sumber : tongkongan islami
Jazakumullah Khairan
Wassalamu'alaikum warahmatullaah wabarakatuh.
0 komentar:
Posting Komentar